Selasa, 29 Mei 2012

Setitik Kisah Dibalik Senyuman

     Pada suatu hari seseorang merasakan banyak masalah yang menderanya. Dari mulai tetek bengek keluarga yang penuh dengan sensasi, kekasih yang meninggalkan beban di hatinya dan dunia pertemanan yang membuatnya memilih untuk sendirian dibandingkan harus melalui masa-masa itu dengan mereka. Pilihan hidupnya sangatlah sempit karena terbentur dengan berbagai halangan di kanan-kiri, depan serta belakang. Membuatnya sulit melakukan pergerakkan pembelaan.
Ia sebenarnya yakin melaluinya dengan berbagai usaha yang membutuhkan kesungguhan hati. Menutup semua jalan prasangka buruk dan menjalaninya dengan baik. Ia yakin dengan dirinya yang mampu melewati berbagai cobaan hidup yang kini ia alami. 
     Keyakinannya berulang kali mengingatkannya bahwa selalu ada jalan bagi orang-orang yang bersabar melalui cobaan, dan cobaan itu adalah ujian dalam meningkatkan derajat keberadaannya di sisi Tuhan. Ia yakin selalu ada jalan dalam setiap masalah dan selalu ada penyelesaian meskipun semua jalan terlihat buntu. 
     Masalah keluarganya dimulai dari kejatuhan kekuatan ekonomi yang keluarganya miliki. Kejatuhan itu menyebabkan berbagai rintangan yang terus menghalangi jalan pergerakannya untuk bangkit kembali calam perekonomian. Kemudian, perpisahan orang tuanya yang disebabkan oleh jatuhnya perekonomian. Baginya, tak sulit menghadapi semua itu selama masih ada kekasih tempatnya bersandar dan tertawa berusaha melupakan apa yang terjadi, meskipun sebenarnya hatinya amat sangat terluka dan kecewa. Tapi ia tak yakin harus marah atau meratap pada siapa, yang ia yakini adalah bersyukur terus menerus pada Tuhan masih memberinya kesempatan merasakan hal-hal indah itu. Kebutuhannya akan kasih sayang, kekasihnya penuhi dengan baik dan penuh perhatian, membuatnya mampu dan yakin dapat melalui semua ini dengan lancar.
     Masalah dengan kekasihnya dimulai ketika kebutuhannya akan kepercayaan, kebaikan serta kebutuhan batinnya mulai bergejolak dalam hatinya, ditambah dengan mantan kekasihnya yang satu persatu melepas masa lajangnya di waktu yang bersamaan. Membuatnya menyesal harus memutuskan hubungan dengan mereka. Keinginan akan menikah begitu membuncah dalam hatinya, membuatnya menjadi lebih haus kasih sayang dan menurunkan kepercayaan kepada kekasihnya, sebuah efek domino yang dramatis. Ia menjadi sangat posesif, cemburu dan merasa tidak percaya diri ketika menghadapi kekasihnya. Penuh dengan amarah yang terpendam dalam hatinya. Ia tahu itu salah, hanya ia tidak tahu lagi harus bagaimana bertindak dan bagaimanan mengungkapkan keinginan hatinya. Ditambah lagi kekasih yang belum sanggup untuk menikahinya dalam waktu dekat karena lagi-lagi ekonomi yang merusak itu semua, lagi-lagi masalah keluarganya yang menjadi sebab musabab hal ini. Sampai akhirnya kekasihnya meninggalkannya sendiri menghadapi berbagai hal tanpa harus mengandalkan orang lain. Ia tahu setiap masalah yang ia lalui tidak pernah ia melibatkan orang lain, setiap tugas yang ia kerjakan tidak pernah ia mengeluh. Ia tidak habis pikir tentang apa yang dilakukan kekasihnya. 
     Masalah dengan teman-temannya dimulai dari kekesalannya yang tidak memiliki kisah menarik dalam hidupnya yang bisa ia ceritakan. Empat tahun ia bersama kekasihnya dan merasa bosan jika ia harus terus menerus memenuhi ceritanya tentang kekasih abadinya itu. Membuat tidak ada lagi sisi menarik yang ia miliki untuk ia bagikan kepada teman-temannya. Ditambah dengan salah satu temannya yang selalu menganggap dirinya menarik, penuh cerita, lucu sedangkan ia hanyalah robot yang tidak memiliki apa2, bercerita seadanya dan tidak begitu menarik untuk disimak. Memang semuanya berawal dari kecemburuan akan keahlian dalam berteman dan bercerita, dan juga kebutuhan akan dibutuhkan. Ia lelah karena setiap ia pergi, tak ada orang lain yang mencarinya, ia kesal karena setiap ia pergi tak ada teman yang mencegahnya, ia pun kesal karena tidak ada teman yang mengingatnya ketika membeli barang yang sama. Ia merasa setiap orang memiliki topeng dang pintar menggunakannya di saat yang tepat. Ia pun tahu itu salah, hanya ia terlalu lelah untuk memulai, terlalu lelah untuk bicara dan terlalu lelah untuk mengungkapkan keinginannya. 
     Kini ia sendiri memakan semua masalah itu sendiri, menguburnya dalam tidur yang panjang dan menutupnya menjadi kisah bad ending yang dramatis, sementara ini mungkin ini adalah akhir yang buruk. Ia yakin kebahagiaan akan menghampirinya suatu saat jika ia mengusahakan sesuatu. Ia berusaha melakukan apapun untuk membahagiakan dirinya sendiri, meski sakit terasa di hatinya, meski harus menelan rasa kecewa, ia tidak peduli. Akan ia kejar kebahagiaan yang ia inginkan dan akan ia kejar kebahagiaan keluarganya dengan setiap hela napasnya, dengan setiap titik keringatnya dan dengan setiap inchi aliran darahnya ia berusaha melakukan yang terbaik untuk orang lain. Karena kebahagiaan terbesarnya adalah kebahagiaan orang lain. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar